Siswi SMA Katolik akan berdongeng di ACC Korsel

0803f

Siswi SMA Katolik Rajawali Makassar, Safira Devi Amorita dan ayahnya Puguh Herumawan akan berpartisipasi dalam Grand Opening Asia Culture Center (ACC) di Korea Selatan (Korsel). Ayah dan anak ini merupakan dua pendongeng terbaik Tanah Air yang akan memenuhi undangan Kementerian Pariwisata, Kebudayaan, dan Olahraga di negara tersebut.

Jumat 31 Juli 2015, Safira bersama ayahnya Puguh Herumawan dan ibunya Wiwiek akan bertolak ke Korsel. Sejumlah agenda telah menunggunya. Pertama, mengikuti training dan workshop mendongeng di Gwangju pada 1-31 Agustus 2015.

Kedua, penampilan di Indonesia International Book Festival di Jakarta pada 2-4 September 2015. Ketiga, penampilan mendongeng pada Grand Opening Asia Culture Center Children di Gwangju pada 9-13 September 2015.

Pada acara ini, Safira akan mendongeng di hadapan warga Gwangju di sebuah acara khusus bernama Story in Tent with Safira Devi Amorita. Ia pun diagendakan akan mendongeng di National Children Day di Thailand pada Januari 2016.

Safira mengaku senang dirinya diundang ke Korsel. Menurutnya, keberuntungan ini tak datang dengan sendirinya. Ia telah menoreh berbagai prestasi dari kegiatan mendongeng.

Pada 2012, di usia 12 tahun, ia menjadi Duta Baca Perpustakaan Provinsi Sulawesi Selatan. Selama bertugas sebagai duta baca, ia keliling mendongeng ke berbagai perpustakaan daerah di Sulawesi Selatan.

“Setelah Fira selesai tugas, Fira masih sering ke sekolah dan TK untuk berbagi cerita. Senang saja bisa berbagi cerita dengan teman-teman. Melalui cerita, mereka bisa mengambil kesimpulan sendiri dari cerita yang didengar,” ujar siswi kelas XI SMA Katolik Rajawali Makassar ini seperti di laman dikdas.kemendikbud, Jumat (31/7/2015).

Saat mendongeng, Fira menggunakan berbagai alat bantu seperti boneka, wayang, dan musik sebagai suara latar. Agar tambah menarik, ia mengombinasikan mendongengnya dengan menyanyi dan menari.

Safira mengaku ingin berkeliling dunia dari kegiatan mendongeng. Korea Selatan menjadi ajang perdananya untuk tampil di tingkat dunia. Ia pun telah membekali diri dengan kemampuan penguasaan lima bahasa yaitu Inggris, Korea, Mandarin, Jepang, dan Belanda.

Sementara Puguh Herumawan ayah Safira, adalah seorang pendongeng yang mendirikan Rumah Dongeng. Ia berkeliling ke sekolah-sekolah, menjembatani institusi dan perusahaan yang hendak melakukan sosialisasi program dan promosi produk.

“Dongeng di Makassar mulai tumbuh. Kalau mereka mau promosi ke sekolah, mereka membutuhkan pendongeng untuk mempromosikan acara dan produknya. Dongeng masih sesuatu yang indah di mata anak-anak,” ujar pria yang akrab di sapa Heru ini.

Yudistira Widiasana mewakili Ditjen Dikdasmen, menyatakan apresiasi dan bangga atas prestasi kedua pendongeng itu. Bisa berpartisipasi di sebuah festival yang digelar di negara lain, merupakan hal yang luar biasa.

“Ini menjadi referensi bagi kita dalam mengembangkan program-program yang bisa membangkitkan minat seperti mendongeng,” katanya.

pmkriyogyakarta