Toleransi Umat Beragama Belum Tuntas

Toleransi Umat Beragama Belum Tuntas

Seorang budayawan mengatakan bahwa praktik pemeliharaan dan pengembangan rasa toleransi serta kerukunan umat beragama masih merupakan persoalan yang belum tuntas di Indonesia, yang menjamin kebinekaan dan keragaman budaya.

“Kita masih sering menyaksikan kekerasan-kekerasan sosial yang terjadi atas nama agama, baik yang bersifat horizontal maupun vertikal,” kata budayawan asal Sumatera Barat (Sumbar), Edy Utama, saat memberikan materi kegiatan Workshop Penguatan Jurnalisme Damai di Sawahlunto, Senin (10/8), seperti dilansir satuharapan.com.

Dia berpendapat masih ada kekhawatiran ataupun kecemasan bagi semua lapisan masyarakat akan terjadinya konflik antarumat beragama, artinya semua pihak masih harus berjuang bersama untuk mencapai kehidupan yang damai dan rukun sebagai sesama umat beragama.

Berkaitan dengan hal itu, dia mengatakan, peranan media massa dalam kehidupan sosial sebetulnya dapat memainkan fungsi penting untuk mencapai kerukunan tersebut, karena sifatnya sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi.

“Media juga sering dianggap cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat Indonesia, bahkan dunia, sehingga dituntut mampu merefleksikan secara apa adanya,” katanya.

Dengan kata lain, media massa mampu bertindak sebagai penyaring yang menyeleksi berbagai hal untuk diperhatikan atau tidak, serta bisa menjadi petunjuk yang menerjemahkan berbagai ketidakpastian informasi yang melingkupi sebuah peristiwa.

Terkait peran dan fungsinya yang penting dalam menjaga kerukunan beragama tersebut, media massa dengan jurnalis sebagai pelaku utamanya diminta dapat melihat persoalan kebebasan mengeluarkan pendapat sebagai hak asasi manusia, dengan dibarengi rasa tanggung jawab, bahwa menjaga kerukunan umat beragama jauh lebih penting dari sekadar membuat sebuah publikasi.

“Setiap jurnalis harus membekali diri dengan pengetahuan dan pemahaman tentang agama resmi yang diakui pemerintah, agar mampu memberikan informasi yang objektif,” kata dia.

Karena, menurut pendapatnya, titik pandang seorang jurnalis tidak boleh bias hanya karena suatu sikap tertentu atau dari sisi agama yang dianutnya, sehingga menghasilkan opini yang mengandung banyak provokasi dan menjadi sumber perpecahan bahkan konflik di antara umat beragama.

“Jika media massa ikut terjebak dalam bahasa provokasi tersebut, hal itu akan tumbuh menjadi masalah baru dan meluasnya potensi konflik akan sulit dibendung,” katanya.

Sementara itu, Kasubag Hukum dan Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kantor Kementerian Agama Wilayah Sumatera Barat, Nurwis, meminta seluruh jurnalis untuk mewaspadai provokasi yang dilancarkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

“Mereka bisa saja datang dari kalangan bangsa sendiri maupun bangsa asing, sehingga dibutuhkan semangat tinggi yang tertanam dalam hati dalam menjaga kerukunan umat beragama,” kata dia.

Karena, lanjutnya, upaya memecah belah umat beragama hanya bisa diantisipasi dengan saling meningkatkan solidaritas dan soliditas dalam toleransi beragama.

Pihaknya menilai, dalam beberapa peristiwa konflik yang terjadi, tidak seluruhnya dipicu oleh sentimen keagamaan.

“Agama hanya dijadikan alat untuk mendapatkan perhatian berbagai pihak, untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang jauh menyimpang dari prinsip-prinsip keagamaan yang dijadikan isu sumber konflik,” katannya.

pmkriyogyakarta