Umat Katolik diajak gunakan media digital sebagai sarana pewartaan

0828c

Acara pelatihan Katekese Digital Komisi Kateketik (Komkat) Regio Nusa Tenggara (Nusra) diperkenalkan dasar-dasar e-Katekese kepada peserta, khususnya penguasaan dua akun multimedia digital –“Prezi.com” dan “Cliptomaze.com”.

Penguasaan kedua akun ini sangat membantu ketrampilan peserta untuk bisa mengakses multi media digital, seperti bisa melakukan foto-foto dengan membuat narasi atau mazmur modern sesuai obyek foto tersebut dan bisa dibagikan kepada siapa saja.

Namun menurut Romo Edigius Menori, ketua Komisi Komsos Keuskupan Ruteng, yang turut hadir sebagai peserta dalam pelatihan katekese digital, berpendapat: “Yang perlu diingat adalah bahwa media digital sebenarnya bukanlah tujuan tapi sebagai sarana. Karena itu inti dari pelatihan ini sesungguhnya bertujuan agar kita para katekis atau pewarta Sabda, bisa hadir atau masuk dalam media digital untuk mewartakan Kristus kepada semua orang.”

Kultur Baru

Ahli komunikasi yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Pastoral Komunikasi St. Thomas di Manila, Filipina ini mengingatkan bahwa Paus Yohanes Paulus II dalam Redemptoris Misio mengatakan bahwa “era digital” merupakan kultur baru. Tugas kita adalah bagaimana menghadirkan Kabar Gembira atau Sabda ke dalam kultur baru tersebut. Untuk itu tiga hal yang perlu diperhatikan menurut Paus Yohanes Paulus II adalah “new psychology, new technique dan new approach”.

Karena itu lebih lanjut, Romo Edi yang juga  Ketua Yayasan Sukma Keuskupan Ruteng mengatakan, “Seharusnya pelatihan katekese digital ini perlu menghadirkan juga orang lain yang memiliki keahlian dalam bidang pastoral komunikasi agar bisa memberikan perspektif pastoral komunikasi dengan berbagai ajaran sosial Gereja Katolik yang begitu banyak dalam Konsili Vatikan II dan nilai-nilai Injili dalam Kitab Suci. Dengan demikian pelatihan kita tidak hanya sekedar menguasai ketrampilan menggunakan sarana digital, melainkan juga memberikan konten atau isi pewartaan Kabar Gembira melalui media digital.”

Romo Edi menjelaskan bahwa dalam ilmu komunikasi pada umumnya, “kita mengenal istilah sender (pengirim pesan/orang yang mengirim pesan), chanel (alat/sarana) dan receiver (orang yang menerima pesan). Pusat yang menjadi perhatian utama dalam komunikasi pada umumnya adalah receiver atau penerima pesan/pasar dan sudah pasti bersifat money oriented. Sedangkan komunikasi Kristiani alurnya sebagai berikut, mulai dari Word/Sabda -Messenger/Pewarta Sabda – (Channel) – danReceiver/penerima/umat.

Ia menambahkan, “Sebagai pusat dalam komunikasi kristiani adalah Sabda. Sabda itu tetap. Messenger-nya harus mengubah hidupnya sesuai pesan Sabda untuk dibawah kepada receiver. Artinyamessenger adalah saksi yang menghadirkan Kristus melalui cara hidupnya baik dalam perkataan atau perbuatan.”

Karena itu, berkaitan dengan era digital ini, Romo Edi berharap, “kita harus bisa masuk di dalamnya untuk mewartakan Sabda Tuhan melalui sarana atau media digital yang ada.”

Sesuai dengan tema pertemuan yakni “Katekese Digital”, Mgr Petrus Turang dalam homilynya menegaskan bahwa perlunya mencermati dan menguasai media digital untuk karya pewartaan yang tepat bagi umat.

Penguasaan media digital, menurut Mgr Turang, sangat penting mengingat perkembangan teknologi komunikasi tidak bisa dibendung.

Lebih dari itu, Mgr Turang juga menegaskan bahwa para pewarta  atau katekis jangan hanya menjadi ilmuwan kateketik, tetapi harus mampu menggunakan ilmu dan ketrampilan kateketik itu dengan terlibat aktif mendampingi umat, membangkitkan iman dan harapan umat untuk lebih dekat dengan Tuhan. Karya katekese atau pewartaan haruslah menggerakkan dan menjadi penghubung umat kepada pengenalan akan Tuhan.

Daniel Boli Kotan yang mewakili Sekretaris Eksekutif Komkat KWI dalam sambutannya mengatakan, “Komisi Kateketik Regio Nusra tercatat sebagai Regio yang paling konsisten dalam melaksanakan amanat PKKI X Bandung. Tidak hanya soal mensosialisasikan dan melaksanakan pelatihan Katekese Digital, Komkat Regio Nusra juga menghasilkan modul-modul tematis yang dipakai di Regio Nusra dan digunakan pula oleh Regio lain.” *** Blasius and Daniel.

Sumber: komkatkwi.com

pmkriyogyakarta